Dunia Warnet

Latest Post

Tahun ini, Xiaomi sudah merilis sebuah smartphone flagship mereka di paruh awal tahun, Mi 6, tepatnya di bulan April 2017 lalu. Untuk paruh kedua tahun ini, Xiaomi disebut menyiapkan sebuah smartphone flagship mereka yang lain, yang diprediksi adalah Mi Note 3. Menariknya, berdasarkan kabar terbaru, smartphone itu bisa saja akan diperkenalkan bulan ini!

Mi Note 3 Akan Hadir Dalam Waktu Dekat

Perkenalan di Akhir Agustus 2017?

Xiaomi disebut mungkin saja akan menggelar sebuah acara untuk memperkenalkan Mi Note 3 akhir bulan Agustus 2017 ini. Kabar ini disebut muncul dari salah satu pihak yang terkait dengan lini pasokan komponen untuk smartphone salah satu perusahaan ternama dari China itu. Sayangnya, Xiaomi sendiri masih belum memberikan kabar apapun terkait Mi Note 3 ini.[ads-post]Tahun 2016 lalu, Xiaomi merilis Mi Note 2 juga di paruh kedua tahun tersebut. Hanya saja, waktu perkenalan dan rilis Mi Note 2 lebih dekat ke akhir tahun bila dibandingkan dengan kabar yang baru muncul terkait Mi Note 3 ini. Walaupun begitu, banyak pihak yakin Xiaomi memang berniat merilis Mi Note 3 lebih cepat dari waktu rilis pendahulunya tahun 2016 lalu.

Usung Spesifikasi Premium


Mi Note 3 sendiri, sebagai smartphone premium Xiaomi, akan hadir dengan spesifikasi yang terbilang tinggi. SoC yang disebut akan digunakan oleh smartphone itu adalah Snapdragon 835, dengan RAM 6 GB. Layar dari smartphone itu disebut akan menggunakan panel AMOLED dari Samsung, yang sayangnya ukurannya masih belum diketahui. Namun, untuk resolusi, Xiaomi disebut akan menawarkan resolusi QHD untuk smartphone mereka yang satu ini.

Samsung - dikabarkan telah menyiapkan teknologi motherboard baru untuk produk smartphone mereka di masa mendatang, khususnya adalah Galaxy S9. Seperti yang dikabarkan dari media Korea, teknologi motherboard terbaru yang menggunakan basis SLP(Substrate like PCB) ini, memungkinkan bagi Samsung untuk menyusun komponen menjadi lebih ukuran yang lebih ramping.


Dengan demikian, teknologi ini memungkinkan bagi Samsung untuk menghadirkan baterai smartphone dengan kapasitas yang lebih besar, tanpa harus mengorbankan desain tipis pada body perangkat. Hanya saja, teknologi ini baru dipersiapkan oleh Samsung untuk varian produk yang menggunakan chipset Exynos saja.

Kita ketahui, Samsung hingga saat ini masih selalu menghadirkan dua varian produk untuk seri flagship mereka. Yaitu menggunakan chipset Exynos dan Qualcomm. Untuk varian Qualcomm,[ads-post]nantinya Samsung masih akan tetap menggunakan motherboard dengan teknologi HDI (High-Density Interconnect). Hal tersebut kemungkinan besar disebabkan masalah kompatibilitas yang belum didukung pada chipset Qualcomm.

Ada kemungkinkan, di kemudian hari Samsung akan memberikan perbedaan spesifikasi yang lebih mencolok antara varian Exynos dan Qualcomm, terutama untuk kapasitas baterai. Tapi ini akan menjadi nilai tambah bagi konsumen, sehingga mereka bisa memilih antara performa dan manajemen daya.

Kita ketahui, saat ini kebanyakan konsumen masih merasa kurang puas dengan varian Exynos karena performanya yang masih cukup jauh dari jika dibandingkan dengan varian Qualcomm. Tapi jika benar Samsung bisa menghadirkan baterai yang lebih besar untuk varian Exynos di waktu mendatang, maka ‘kekurangan’ tersebut bisa teratasi. 

Tak lama lagi, Apple digadang-gadang bakal memperkenalkan iPhone 8 sekaligus merayakan ulang tahun iPhone ke-10. Laporan terbaru menyebutkan bahwa iPhone edisi khusus ini bakal membawa fitur yang belum pernah ada sebelumnya.

iPhone 8 Mampu Kenali Wajah Tanpa Sensor

Perusahaan HomePad menemukan dalam peranti lunak pengenalan wajah iPhone 8 dan bagaimana sistemnya bekerja. Rupanya, sistem tersebut memungkinkan pengguna membuka iPhone ketika perangkat tergeletak di atas meja. Artinya, pengguna tak perlu memperlihatkan wajah mereka di depan perangkat.

Kesimpulan tersebut ditarik oleh iHelp BR, divisi di HomePad, dari sistem pengenalan wajah dengan kode "Pearl" yang akan diboyong dalam peranti lunak yang berbeda dari biasanya.

Dalam kodenya terdapat kata-kata seperti "resting" (diletakkan) dan "unlock" (membuka kunci). Fitur ini ditemukan dalam kategori pilihan aksesibilitas, yang secara khusus disebut "AXRestingPearlUnlock" dan "com.apple.accessibility.resting.pearl.unlock".[ads-post]Selain itu, sistem ini juga diyakini bisa bekerja dengan aplikasi pihak ketiga karena ditemukan kode "APPS_USING_PEARL" dalam kodenya. Dengan begitu, pengguna bisa memanfaatkan fitur ini untuk aplikasi lain misalnya seperti aplikasi perbankan dengan memanfaatkan fitur pengenalan wajah.

iHelp BR juga yakin bahwa ponsel akan secara otomatis terkunci ketika mendeteksi orang lain yang ingin membuka ponsel ketika wajahnya tak sesuai dengan pengguna sebenarnya. Ini adalah upaya pengamanan tambahan yang diberikan perusahaan yang berbasis di Cupertino tersebut kepada konsumen mereka. Meskipun tidak ada konfirmasi yang pasti, penemuan firmware HomePod memang menguatkan laporan Bloomberg pada Juli.

Menurut laporan Bloomberg dan temuan HomePod, perangkat lunak yang bisa mengidentifikasi wajah milik Apple memiliki perbedaan karena diklaim bukan sekedar memindai wajah. Apple membuat ponsel bisa secara langsung memindai dan membuka kunci meskipun berada pada sudut yang tidak biasa. Sistem itu disebut bakal menggantikan Touch ID dan diduga bekerja bahkan ketika ponsel diletakkan di atas meja. 

Bulan lalu, fitur pengenalan wajah ini kabarnya "masih diuji" dan berpotensi tidak muncul di iPhone 8. Namun, penemuan baru firmware HomePod dalam peranti lunak versi modifikasi iOS membuatnya lebih mungkin bisa masuk ke iPhone 8.

Apple Ajukan Paten Alat Pemindai Paspor – Apple memiliki harapan jika iPhone dan Watch bisa memiliki fungsi yang lebih canggih lagi, sehingga perangkat ini tak hanya bisa digunakan sebagai gadget dan dompet saja. Raksasa teknologi ini sekarang dikabarkan memiliki rencana yang cukup ambisius untuk membuat kedua perangkat genggam miliknya tersebut menjadi e-paspor.

Apple Ajukan Paten Alat Pemindai Paspor

Rencana Apple ini terungkap setelah pihaknya mengajukan sebuah proposal paten. Di dalam proposal tersebut terdapat alasan yang dituliskan oleh pihak Apple mengapa mereka mengajukan alat baru ini. Apple beralasan jika saat ini pemerintah sudah banyak menggunakan berbagai bentuk identifikasi untuk menyimpan informasi serta menggunakannya untuk mengetahui keaslian penggunanya.

Apple memberi contoh konsep yang diajukannya tersebut melalui chip electronic yang saat ini digunakan dalam e-paspor. Chip yang ada di e-paspor memang berisi nama, tanggal lahir, dan berbagai macam data yang berkaitan dengan pemilik paspor itu.

Chip pada e-paspor inilah yang dingin diadopsi oleh Apple dan direalisasikan ke dalam bentuk yang nantinya akan bisa disematkan pada iPhone maupun Watch.

Jika konsep ini nantinya bisa benar-benar diwujudkan oleh pihak Apple, maka pengguna iPhone maupun Watch hanya cukup berjalan melalui pemindai.[ads-post]Kemudian, seluruh data yang ada di dalam iPhone maupun Watch nantinya bisa dicocokkan dengan data yang tersimpan di imigrasi setempat secara otomatis.

Sesuai dengan paten yang diajukan Apple, kinerja perangkat seperti ini bisa direalisasikan dengan menggunakan perangkat berteknologi radio jarak pendek serta elemen pengaman. Setelah itu, sebuah komputer akan dipakai untuk membaca data paspor di dalam perangkat genggam dan mencocokkannya dengan data yang ada di pihak imigrasi.

Paten yang diajukan Apple untuk alat ini sekarang telah mendapatkan persetujuan dari U.S. Patent & Trademark Office sehingga kemungkinan alat yang diusulkan oleh Apple itu akan bisa benar-benar direalisasikan. Namun yang tak boleh dilupakan adalah paten biasanya hanya berupa sebuah konsep. Oleh karena itu, meskipun Apple memiliki kapasitas untuk mewujudkannya, namun belum bisa dipastikan jika Apple benar-benar akan merilisnya dalam waktu dekat.

Popularitasnya sepertinya memang tak lagi terbendung. Dengan komunitas super aktif yang terus memainkan pertempuran demi pertempuran, Playerunknown’s Battlegrounds yang masih berada dalam status Early Access dan ditawarkan dengan harga terjangkau ini memang tengah jadi primadona di Steam. Konsep Battle Royale yang mengharuskan Anda untuk bertarung dan bertahan hidup melawan 99 orang lainnya, dalam format solo ataupun tim, sepertinya berhasil menyihir jutaan gamer di seluruh dunia. Satu yang menarik? Prestasi demi prestasi terus berhasil ia torehkan.

Jumlah Pemain Bersamaan PUBG Tembus 500.000

Setelah menetapkan diri sebagai game non-Valve dengan jumlah pemain bersamaan tertinggi beberapa waktu yang lalu, PUBG kini hadir dengan prestasi lain yang kian mengukuhkan popularitasnya. Ia berhasil mencatatkan angka 500.000 pemain bersamaan beberapa hari yang lalu.[ads-post]Angka yang berhasil membuatnya merebut posisi kedua dari CS: GO di hari tersebut, sebuah pencapaian yang tentu saja, terhitung fantastis. Ia sempat tertinggal “hanya” 200.000 ribu pemain dari game terpopuler Valve saat ini – DOTA 2.

Apa yang dicapai oleh PUBG selama beberapa bulan terakhir ini tentu saja pantas mendapatkan acungan jempol. Walaupun sempat mendapatkan kritik karena skema penjualan loot berisikan item kosmetik yang sudah mulai mereka lakukan, sang developer – Bluehole tetap memperlihatkan komitmen untuk merilis versi finalnya sebelum tahun 2017 ini berakhir. Bagaimana dengan Anda sendiri? Berapa banyak dari Anda yang jatuh cinta dengan game yang satu ini?

Awal tahun ini, ASUS merilis motherboard “APEX” pertama mereka untuk LGA 1155, dengan chipset Z270, yaitu Maximus IX APEX. Motherboard “APEX” sendiri mengusung suatu keunikan tersendiri, yaitu dengan desain PCB poligonal, dan diposisikan di tingkat tertinggi dari jajaran motherboard mereka. Kini, ASUS kembali merilis sebuah motherboard “APEX” baru.


Hadirkan “APEX” di LGA 2066

Motherboard “APEX” baru yang diperkenalkan ASUS ini adalah Rampage VI APEX. Seperti lini Rampage sebelumnya, motherboard ini juga ditujukan untuk mendukung platform high-end desktop Intel. Rampage VI APEX ini hadir dengan soket LGA 2066 yang ditujukan untuk mengakomodasi prosesor Skylake X dan Kaby Lake X, serta mengusung satu-satunya chipset yang mendukung kedua prosesor itu saat ini, Intel X299.

Hanya Tawarkan 4 Slot DIMM DDR4

ASUS masih menggunakan desain poligonal untuk PCB motherboard kelas premium ini. Menariknya, ASUS tidak menghadirkan delapan slot DIMM DDR4 untuk motherboard ini, seperti yang ada[ads-post]di kebanyakan motherboard X299 lain. Mereka justru hanya menghadirkan empat slot DIMM DDR4 yang mendukung konfigurasi quad-channel untuk prosesor Skylake X dan dual-channel untuk Kaby Lake X. Terdapat juga slot DIMM.2 untuk penggunaan M.2 SSD kencang.

Dukung 4-Way SLI/Crossfire

Rampage VI APEX ini mengusung empat slot PCIe 3.0 x16. ASUS menyebutkan bahwa konfigurasi multi-graphics card hingga 4-way SLI atau 4-way Crossfire didukung oleh motherboard ini. Selain empat slot PCIe 3.0 x16, terdapat juga satu slot PCie x4 untuk kebutuhan ekspansi tambahan.

Kaya Fitur OC

Seperti Maximus IX APEX, Rampage VI APEX ini juga dibekali dengan berbagai fitur pendukung overclocking, termasuk konektor daya yang melimpah yang menjamin kestabilan pasokan daya ke komponen-komponen yang digunakan saat praktik overclocking. Fitur lain seperti LN2 Mode, Slow Mode, dan konektor thermal sensor juga tersedia di motherboard ini. ASUS sendiri menyebutkan bahwa motherboard ini memang ditujukan untuk kebutuhan overclocking, bahkan hingga ke tingkat ekstrim, untuk memecahkan banyak rekor dunia.

Teknologi yang dihadirkan saat ini pastinya telah jauh berkembang jika dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Smartphone sendiri kini hadir tak lagi hanya sekedar perangkat untuk bisa menelepon maupun mengirim pesan semata, tetapi sebagai komputer cilik yang bisa digunakan untuk beragam aktivitas digital, baik untuk pekerjaan maupun hiburan sekalipun.

Pengamat: Smartphone Punya Efek “Merusak” Generasi Muda

Mengesampingkan fungsinya yang sangat banyak tersebut, kehadiran smartphone juga nampaknya mulai mengkhawatirkan untuk sebagian masyarakat, seperti yang tertulis dalam artikel pada The Atlantic yang ditulis oleh Jean M. Twenge. Pihak penulis telah melakukan beragam riset dan pengamatan perkembangan teknologi mulai dari era 1990an hingga tahun 2012an, dan dirinya menemukan bahwa terdapat perubahan perilaku yang ditemukan dari para pengguna smartphone tersebut, di mana ia menemukan bahwa para generasi yang lahir di tahun 1995 hingga 2012 menerima dampak lebih negatif dari penggunaan smartphone.

Generasi tahun 1995-2012 yang disebut sebagai iGen oleh Twenge ini menyebutkan bahwa dampak negatif yang diterima oleh mereka tersebut menyebabkan mereka lebih mudah depresi jika dibandingkan dengan generasi Milenial. Twenge juga menyebutkan, generasi iGen ini lahir dan tumbuh besar tanpa memiliki pilihan untuk tidak menggunakan smartphone, karena mereka bertumbuh besar dengan teknologi smartphone atau tablet yang sudah ada tersebut. Mereka bahkan tak pernah tahu seperti apa rasanya kehidupan tanpa internet yang sekarang bisa mereka nikmati lebih mudah di era saat ini.

Salah satu responden yang diwawancarai oleh Twenge, seorang anak berusia 13 tahun yang diberi nama Athena (bukan nama sesungguhnya), menyebutkan bahwa Athena mengaku [ads-post]bahwa mereka tak punya pilihan untuk bisa memilih hidup tanpa iPad atau iPhone. Dan generasi mereka jauh lebih menyukai smartphone mereka masing-masing lebih baik daripada manusia yang sesungguhnya.

Dalam artikel yang sama juga disebutkan bagaimana tingkat depresi atau kesehatan mental dari para generasi ini lebih rentan jika dibandingkan dengan generasi Milenial. Secara teknis, generasi Milenial sesungguhnya tak jauh berbeda mengenai ketidaktahuan kehidupan sebelum internet karena mereka juga lahir dengan disuguhkan teknologi yang kurang lebih sama. Tapi yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya maupun generasi masa kini adalah cara pandang mereka terhadap dunia, serta pengalaman yang juga berbeda karena adanya perkembangan teknologi dan sejenisnya setiap tahunnya.

Yang cukup menarik, artikel juga menyebutkan bagaimana anak-anak sekolah masa kini lebih sering menghabiskan waktunya di smartphone selama lebih dari 10 jam seminggu, dengan 56% menghabiskan waktu di sosial media dan merasa lebih tidak bahagia dibandingkan mereka yang tidak sering menghabiskan waktu dengan bermain smartphone miliknya.

Pernyataan soal media sosial tersebut sudah berulang kali disebut dalam artikel-artikel lainnya, di mana platform media sosial ini sendiri kerap menjadi platform yang paling sering digunakan tetapi juga paling rentan terhadap bahaya pelecehan online atau cyber bullying.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget